[Ke]pahlawan[an] Masa Kini

Oleh: Aditia Oktaviyanto, M.Pd*

Kisah kepahlawanan lahir oleh rahim nasionalisme zaman kemerdekaaan. Berkat kisahnya, nasionalisme sebagai sebuah ideologi tetap kokoh tetap terjaga dan kokoh. Narasi perjuangan nasional para pahlawan seperti Diponegoro, Sisingamangaraja, Pattimura dan lainnya menjadi penting dan berarti bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali bagi anak-anak di pedalaman Papua, anak sekolah di kaki Kerinci. Hal ini bertujuan agar mereka yang tak mengenal langsung para pahlawan dapat masuk ke dalam rasa hayat kolektif akan narasi perjuangan nasional pasca kolonial.

Karena hal itu, dipaparkan satu pemahaman politis betapa Indonesia amat pantas untuk dijaga, dipertahankan, jika perlu dengan tindakan yang sama heroik dan berdarah seperti yang dilakukan Diponegoro atau Pattimura. Dengan itulah kita bisa memahami kenapa terus direproduksi silogisme “bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai para pahlawannya”. Dengan silogisme ini, “masa lalu, masa kini, dan masa depan” diatur dalam garis lurus yang jelas dan stabil, seperti kontinum tanpa celah, seperti sungai yang terus mengalir, tanpa mengenal kata pasang surut.

Dalam kasus Indonesia, pahlawan dan kepahlawanan merupakan salah satu elemen penghubung yang memungkinkan proyeksi “Bhinneka Tunggal Ika” tetap terjaga. Salah satu tujuan menciptakan pahlawan adalah untuk mempertahankan “rasa” abstrak ikatan nasional. Rakyat Indonesia dengan keragaman asal, bahasa ras, adat dan agama diikat oleh rasa hayat terimakasih kepada para pahlawan yang telah berjuang melawan kolonialisme. Dapat dimengerti mengapa semua negara memiliki monumen pahlawan, dan pada saat yang sama sangat mementingkan taman makam pahlawan yang sengaja dibuat di banyak daerah. Tidak ada lencana lain dalam budaya nasional modern yang semenarik monumen dan makam pahlawan.

Meskipun demikian, terkadang persepsi kita tentang pahlawan dan kepahlawanan diganggu oleh epik kepahlawanan yang auratik dan membius. Setiap kali kita jatuh ke dalam krisis, kita melihat ke masa lalu dan merindukan kebangkitan para pahlawan, orang-orang hebat dengan keberanian dan energi. Padahal, di era saat ini, setiap persoalan bangsa mungkin tak bisa lagi diselesaikan dengan hanya pidato pemimpin yang membakar, atau oleh satu atau dua pribadi agung yang berani mengambil tindakan dramatis dan sikap heroik yang sekejap bisa menggugah jutaan masa. Mungkin kehadiran pemimpin yang berani mengambil risiko untuk mengambil tindakan dramatis (seperti mematikan korupsi) bisa membuat agenda pemberantasan korupsi bisa berdaya ledak. Namun bukan berarti korupsi dan persoalan bangsa dapat dengan cepat bisa terselesaikan. Kita butuh lebih banyak lagi pribadi bersih dan berani, serta perlunya langkah-langkah yang lebih kreatif untuk mengatasi stagnasi dan lebih banyak kebijakan yang dirumuskan dengan cermat, terperinci dan diimplementasikan secara konsisten dan berkelanjutan.

Saat ini, jika pahlawan dan kepahlawanan masih dibutuhkan, maka dibutuhkan ribuan pahlawan lagi dan jutaan aksi heroik. Namun, ketika pahlawan dan prestasinya mencapai ribuan atau jutaan, mereka tidak lagi seperti pahlawan seperti Diponegoro atau Sisingamangaraja, tetapi menjadi biasa sehari-hari, sederhana dan bersahaja. .. Sanento Yuliman, orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor senirupa, menjelaskan hal ini dalam satu kalimat yang menarik, “Negara yang hebat adalah negara yang menghargai orang biasa dan pekerjaan biasa,” tulisnya. Menarik untuk menempatkan parafrase Sanento dalam konteks “imajinasi produktif”nya Paul Ricoeur, yang memungkinkan lahirnya citra [kebangsaan] yang sebelumnya tak terbayangkan. Ini berlawanan dengan jenis “imajinasi reproduktif” [oleh Ricoeur disebut “reproductive imagination“], sejenis imajinasi yang minimalis kadarnya, karena ia muncul sebagai peng-iya-an dari masa silam. Imajinasi produktif ini membuka diri pada sikap, perilaku, tindakan atau pekerjaan biasa yang mungkin tidak terlampau gagah dan heroik, tidak dilakukan oleh mereka yang rela menyerahkan tubuh dan nyawanya demi keutuhan NKRI, tetapi hanya mereka yang melakukan pekerjaan biasa atau menjalankan ide-ide sederhana.

Dengan kata lain, sikap, tindakan atau pekerjaan itu bukan sesuatu yang epik dengan kekuatan auratik. Dan dapat dilakukan oleh siapa saja, mereka bisa seorang camat yang memimpin dengan bersih dan mempraktikkan transparansi manajemen kebijakan. Mereka bisa seorang pekerja sosial yang mengajarkan literasi kepada anak-anak di hutan. Mereka bisa jadi programer website yang memberikan informasi tentang pejabat dan politisi yang sering bolos melewatkan rapat di DPR. Mereka bisa pembuatsoftware gratis yang ditujukan bagi sekolah-sekolah kekurangan dana. Mereka bisa akuntan KPK yang pendiam, yang rutin bekerja dari jam 8 pagi hingga 5 sore, tapi bekerja dengan cermat dan kebal suap, dan sebagainya.,,. Alih-alih mengutuk kegelapan, mereka memilih menyalakan lilin, tidak peduli seberapa sayu dan kecil nyala api itu. Harus diakui bahwa kita butuh akan hal itu, karena masalah yang dihadapi Indonesia sangat beragam dan terakumulasi dalam berbagai bidang dan aspek. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan Presiden, Kapolri, dan Ketua KPK, atau “orang-orang penting” atau  “nama-nama besar”.

Seperti yang diyakini Thomas Carlyle, sejarah Indonesia sepertinya tidak hanya ditentukan oleh orang-orang hebat. Ini akan menggantikan narasi pahlawan dan kepahlawanan yang beraura epikal yang membuat pribadi-pribadi masa kini yang punya sumbangan kecil dan sederhana tak cukup diakui dan diberi tempat, karena ruang dan rasa hayat terima kasih itu sudah penuh diisi gambar para pahlawan yang tak terjamah dan telanjur wingit, keramat.

Akan tetapi, kini siapa saja bisa menjadi pahlawan dan melakukan tindakan kepahlawanan, yang tidak hanya diukur oleh siapa yang melakukan dan besar-kecil, banyak-sedikit, biasa-luar biasa tindakan yang dilakukan. Namun yang terpenting adalah aktualisasai nilai-nilai [ke]pahlawan[an] dalam tindakan keseharian yang berorientasi kepada kemashlahatan orang banyak. Maka, berbahagialah bangsa yang bisa menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan yang juga biasa.


Penulis

Aditia Oktaviyanto, M.Pd

[Sekretaris Jenderal Harmoni Anak Negeri; Dosen Pendidikan Matematika STKIP Yasika]